#Sabar

:::::::::::

Mungkin saat ini hati telah memilihmu..
Tapi biarlah hanya aku dan Allah yg tau..
Biarkan ku istikharahkan namamu dulu..
Karna hatiku belum tentu yg paling tau..
Kutunggu Allah tuk memilihkan cintaku..
Bukan ku tak berani mengatakan padamu..
Aku hanya ingin diam-diam melihatmu..
Aku hanya ingin, sembunyi-sembunyi menyebutmu dalam Doa-doaku..
Aku hanya mau, memunajadkan kamu pada Rabbku..
Tak perlu terlalu sering ku menyapamu..
Tak usah ku terang-terangan menyatakan kode-kode cintaku..
Karna aku yakin dan tau, Allah lebih pandai mengatur pertemuan antara kamu dan aku..
Menanti hingga saat malaikat jadi saksi engkau halal kuimami..
Sabarlah wahai hati saat itu akan hadir menghampiri, bukan cuma sekedar mimpi..

Hope

tumblr_m9djqbhh2i1r0cjklo1_1280

:::::::::::

Tak ada yang sia-sia. Termasuk menanti menunggu lama. Engkau sudah menulis semua. Nama, tempat dan waktu pertemuannya. Doaku agar senantiasa Kau jaga dia. Agar dalam dekap-Mu, selalu terkirim rahmah untuknya. Usahaku agar kelak ia tak kecewa. Di sampingku penuh ucap syukur dan rasa bangga.

Lagi pula, memang seharusnya aku percaya bahwa yang tertulis itu pasti ada. Cepat atau lambat, dalam ruang waktu aku akan bertemu dengan ia. Entah segalanya mungkin di luar batas angan-angan saja. Tangan-Mu, masih erat menggenggamnya. Kekuatanku tak mampu untuk bisa menyibak tabir yang telah dijaga dan akan terbuka bila waktunya tiba.

Ah, iya, aku memang harus percaya; Kau sudah mempersiapkan segalanya.

Fall in The Right Time

Fall:::::::::::::::

Hey kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri di sana. Yang tabah ya, sampai hari itu tiba. Yang sabar ya, hingga tiba hari di mana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa. Aku berjuang menjaga mata, kamu di sana mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai masa itu tiba. Jangan lelah mendoakanku di setiap sujudmu, ya. Hiraukan cerca dari mereka, mereka hanya belum paham yang kita perjuangkan ini untuk apa. Saat ini, semesta sedang berjingkat mengurus pertemuan kita di satu masa paling sempurna.

Masa ketika aku berucap “Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.

Hijrah

image

::::::

Sehari menjelang perang Badar, Rasulullah hanya bisa berdoa, mengangkat tangan setinggi-setingginya. Jika andai besoknya ke-313 sahabat ini gugur di medan syahid, maka tidak ada lagi estafet dakwah selanjutnya. Namun tanpa gentar kaum muslimin tetap siap sedia di medan laga. Hingga Allah menurunkan 1000 pasukan langitnya, memenangkan Badar.

Allah bisa saja menurunkan seribu atau sejuta malaikat, bahkan sebelum Rasulullah hijrah. Allah bisa saja menurunkan Hidayah ke seluruh umat manusia saat itu. Sehingga Rasul tak perlu diusir dari kampung halamannya. Tak perlu dilempari kotoran. Tak perlu berdakwah hingga berdarah-darah.

Namun, apa artinya kemenangan tanpa perjuangan. Allah menginginkan Konsekuensi logis atas setiap hasil yang kita dapatkan. Pasukan Badar belum tahu bahwa paginya akan datang seribu malaikat, berfikir akan menang pun tidak. Bukan semata-mata karena jumlah, ia usaha dan doa mereka yang membuat Allah mengijinkan kemenangan atas mereka. Di penghujung harap, doa dan usaha tak boleh lepas, bahkan jika harus berharap akan bergantinya titah di Lauhul Mahfudz, biarlah Allah yang memberi ijin.

Ngopi

Situ suka minum kopi? Sama, saya juga suka ngopi. Pekatnya kopi kadang-kadang membuat kita tersentak sadar, bahwa tidak semuanya selalu terang. Pahitnya yang menyeruak membuat kita tahu bahwa tidak semuanya selalu manis. Suka ngopi bukan berarti setiap saat minum kopi. Hanya sesekali diantara semua tegukan rasa lain, sesekali diantara banyaknya aktivitas. Suka sesekali minum kopi, berarti dia mau sesekali diajak hidup hitam, tidak minta selalu terang. Ada pahitnya dan ada rasa manis, yang sesekali rasa pahit menyeruak tajam menohok rasa manisnya. Sesekali merasa pekat dalam hidup dan tidak mengejar gemerlapnya langit. Hanya sesekali, tapi seumur hidup. Indah tentunya menemukan teman untuk sesekali ngopi seumur hidup.

::::::

::::::

kopisawah

Semut Merah

semut-harvester-merah

Ini cerita singkat tentang PT. Smartfren Telecom (Smartfren). Perusahaan penyedia layanan telekomunikasi seluler dengan teknologi CDMA. Sekaligus tempat yang menggaji saya pertama kali setelah masa pengangguran saya usai.

Seperti orang normal lain, saya cari informasi tentang perusahaan tersebut sebelum saya bekerja di dalamnya. Tidak banyak informasi yang saya dapat waktu itu. Hanya berkisar bahwa Smartfren ini perusahaan yang baru (merging antara Smart dan Mobile-8) berdiri tahun 2010. Teknologi seluler yang dipakai yakni teknologi CDMA.

Saya sempatkan cari informasi ke kawan-kawan saya yang lain yang sudah bekerja di telco (sebutan singkat untuk industri yang bergerak di layanan telekomunikasi) mengenai CDMA dan Smartfren. Jawabannya hampir seragam. Mereka memiliki bayangan bahwa CDMA bukan merupakan produk yang pas di Indonesia. Beberapa juga berujar nantinya Smartfren juga akan mati mengikuti trend telco CDMA lain di Indonesia.

Tulisan ini berangkat dari fakta yang saya temui sebelum dan setelah saya bekerja di dalam industri telco. Fakta yang paling utama adalah bahwa teknologi seluler generasi ketiga (3G) yang ada di Indonesia sekarang sudah menemui ajalnya, baik itu HSPA di GSM maupun EV-DO di CDMA. Bahkan di negara maju, teknologi 3G sudah bukan pilihan. Di masa depan, semua industri telco harus mengubah teknologi mereka ke generasi keempat (4G) yaitu Long Term Evolution. LTE ini hampir semua perangkatnya menggunakan teknologi baru yang lebih sederhana dan menjanjikan fitur dan layanan yang lebih daripada 3G. Topologi Radio Access Network (RAN) di LTE sangat ramping. Jika di 3G, RAN yang dibutuhkan adalah BTS dan BSC, di LTE fungsi keduanya menjadi satu di dalam eNodeB. Dari sisi industri telco, arsitektur ini sangat menghemat biaya, terutama biaya perawatan. Yang awalnya perusahaan harus mengeluarkan biaya pengadaan dan perawatan untuk dua barang menjadi hanya satu barang. Dan dari sisi pengguna, banyak sekali manfaat yang akan diperoleh. LTE menggunakan scalable bandwidth, artinya bandwidth untuk teknologi ini bisa beragam yaitu 1.4Mhz, 3Mhz, 5Mhz, 10Mhz, 15Mhz, dan 20Mhz. Tergantung jumlah bandwidth yang dimiliki operator tersebut. Dengan 20Mhz, secara teori pelanggan bisa mendapatkan data-rate throughput hingga maksimal 300Mbps. Percakapan akan dilakukan melalui IP atau data, SMS (sudah mulai) digantikan dengan Messaging Application macam Line atau Whatsapp. Ini juga bukti bahwa ke depan kebutuhan data adalah kebutuhan utama pengguna yang harus disediakan oleh operator secara reliable. Nantinya tidak ada lagi operator GSM maupun CDMA, semua operator menggunakan LTE. Pengguna makin bebas pindah-pindah operator. Jadi, adalah suatu keniscayaan bahwa teknologi masa depan yang harus dipakai telco adalah 4G LTE. LTE atau Mati!

Saya memang (saat ini) bukan bos di Smartfren, atau SinarMas Group. Yang saya tahu, Smartfren (dengan SinarMas Group di belakangnya) bukan perusahaan yang menyerah pasrah. Smartfren memang bukan First Layer Operator (Telkomsel, XL Axiata dan Indosat). Tapi Smartfren juga menolak untuk tidak melakukan apa-apa. Diantara semua operator CDMA, Smartfren-lah (saat ini) yang masih “terlihat”. Setidaknya dari iklan-iklannya di televisi, di koran, di internet. Peningkatan jumlah subscriber dari yang hanya tiga juta saat awal merger menjadi 12juta dalam waktu tiga tahun juga bukan hal yang bisa dianggap ecek-ecek. Jika dibandingkan dengan First Layer Operator tadi memang masih belum apa-apa. Namun Smartfren ini layaknya duri dalam daging, layaknya semut merah. Ia kecil, tidak perlu perhatian khusus, namun mengganggu, gigitannya menjengkelkan, dan memiliki potensi. Momen transisi teknologi ke 4G LTE ini harusnya juga bisa dimanfaatkan Smartfren sebagai salah satu momen percepatan untuk menjadi operator besar.

Goodbye my dear friend, Arie Wibisono (An Obituary)

Arie

Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia

Saat kaki t’lah lemah kita saling menopang

Hingga nanti di suatu pagi, salah satu dari kita mati

Sampai jumpa di kehidupan yang lain

Saya mengenal Arie semenjak kelas empat sekolah dasar. Saat itu kebetulan saya mewakili sekolah saya, SDN 2 Sukorejo, di lomba siswa teladan se-Kecamatan Sukorejo. Dia mewakili SD-nya yaitu SDN 1 Kebumen. Kami berkenalan karena kebetulan berdekatan meja antara satu peserta dan peserta yang lain.

Minggu 16 Juni 2013 pagi saya mendapat sms dari Abah yang mengabarkan bahwa kawan saya tersebut meninggal dunia karena kecelakaan motor. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kabar tersebut saya terima tepat setelah saya kembali ke Jogja dari Sukorejo. Seketika itu pula saya shock, ada rasa tidak percaya dengan kabar tersebut, namun tidak mungkin juga Abah cuma main-main. Ini pertama kalinya saya kehilangan sesorang yang cukup dekat dengan saya. Ada banyak ingatan yang muncul seketika.

Arie adalah salah satu sahabat saya ketika awal-awal saya pindah ke Sukorejo. Sebelumnya, saya dan orang tua saya tinggal di Magelang, dan karena pekerjaan orang tua yang mengharuskan saya pindah ke Sukorejo. Ada satu grup sejak SMP yang membuat saya mudah beradaptasi di desa ini. Kalau saya boleh me-refer ke film Hangover, mereka berempat (Stu, Doug, Phil, dan ) menyebut kelompok mereka The Wolfpack. Nah, saya juga menyebut kelompok kami ini The Wolfpack. The Wolfpack ini beberapa anggotanya tetanggaan, kecuali beberapa orang termasuk saya. Ada sekitar delapan sampai sepuluh orang diantara kami. The Wolfpack ini makin solid, ketika kami menginjak SMP, karena kebetulan kami berada di satu SMP yang sama, SMPN 1 Sukorejo. Di sekolah ini salah satu yang mempererat kami adalah kegiatan pramuka. Tiga tahun yang penuh petualangan, terutama bagi saya.

Sekilas, mungkin terdengar eksklusif The Wolfpack ini, tapi sebetulnya justru kami berkumpul ketika ada momen-momen keagamaan. Yang paling sering adalah ketika memasuki bulan ramadhan. Ada satu masjid yang  mengadakan semacam pesantren tiap sore, dan di momen ini yang menurut saya paling berkesan. Hampir tiap sore menjelang berbuka kami “ngaji” bareng, berdiskusi soal apapun. Dan tidak berbeda seperti anak-anak SMP yang lainnya, kami juga bercanda, yang saat ini ketika dipikir ulang, candaannya sepertinya agak kelewat batas. Yang paling gayeng (dan tidak patut ditiru) adalah ketika kami memanggil nama masing-masing dengan nama orang tua kami, dengan maksud bercanda tentunya. Dan banyak lagi yang lain kenakalan-kenakalan khas remaja yang sering kami lakukan. 😀

Lepas dari SMP, beberapa dari kami sudah tidak di Sukorejo termasuk saya yang merantau ke Jogja. Arie termasuk yang masih melanjutkan SMA di Sukorejo. The Wolfpack masih sering berkumpul walaupun sudah tidak sesering sebelumnya. Setidaknya ketika momen menjelang lebaran kami menyempatkan suatu sore untuk berkumpul bersama for the old time sake, sampai saat ini.

Sebelumnya Arie adalah ners yang bekerja di R.S. Karyadi, namun sempat menjadi asisten Abah di kliniknya untuk beberapa saat sebelum ke Karyadi. Minggu pagi itu Abah mendapat kabar dari Dokter Iwan, rekan seprofesi Abah yang bekerja di Puskesmas Sukorejo, mengabarkan bahwa Arie mengalami kecelakaan tunggal. Kecelakaan tunggal yang barangkali bisa menjadi pengingat kita semua agar lebih hati-hati ketika mengendarai kendaraan di jalan raya.

Goodbye my dear friend. The Wolfpack will miss you. See you in another life.